Search This Blog

Friday, May 01, 2020

You don’t need a reason to be nice

Saya pernah berdebat dengan pacar saya tentang hukuman apa yang pantas untuk para teroris.
Saya bilang, hukuman yang paling sadis. Sodomi setiap hari sampai mereka akhirnya bunuh diri di tahanan. Pacar saya kaget setengah mati, dia pikir saya psikopat.
Dia lalu bilang, “Babe, think about it. If you create a war on top of the other war, everything is only going to be escalated. It won’t stop the problem.”

Waktu itu saya bersyukur punya pacar baik, tapi jelas saya tidak setuju. Setiap kali topik ini kembali dibahas, saya tetap teguh dengan konsep sodomi yang saya katakan sebelumnya.
Saya selalu bertanya, “Kenapa? Mereka kan orang jahat. Orang jahat harus disiksa. Kenapa harus baik ke mereka?”

Saya sering menonton crime series, murder case, detective movies. Kadang saya berpikir, hukuman seumur hidup penjara atau hukuman mati kadang belum cukup untuk kasus pembunuhan.
Bayangkan perasaan keluarga korban. Bayangkan kalau orang yang kita sayang tiba-tiba disiksa dan dibunuh. Kenapa tidak ada hukuman ekstrim di dunia ini, yang sesadis-sadisnya supaya tidak ada orang yang membunuh lagi?

Lalu saya tersadar. Bahwa semua orang terlahir sebagai orang yang baik. Keadaan yang membuat orang berlaku tidak baik.
Di semua crime series yang saya tonton, detektif selalu mencari motif tindak kejahatan.

Jadi kesimpulan saya, you probably need a reason to be a bad person, but you don’t need a reason to be nice. We just born this way.

Wassalam.

No comments: